sumber bacaan
Cara kerja alat pemadam kebakaran berbahan padat /powder
digilib.uns.ac.id
Pembuatan bioetanol dari kulit singkong
Riza Fahmi Sukmawati
UNS (Sebelas Maret University), 2009
ABSTRAK Kulit singkong merupakan limbah dari singkong yang memiliki kandungan karbohidrat tinggi sehingga kulit singkong dapat dijadikan salah satu alternatif bahan baku pembuatan bioetanol. Persentase jumlah limbah kulit bagian luar sebesar 0, 5–2% dari berat total singkong segar dan limbah kulit bagian dalam sebesar 8–15%. Bioetanol merupakan senyawa alkohol yang diperoleh lewat proses fermentasi biomassa dengan bantuan mikroorganisme. Hidrolisis adalah suatu proses antara reaktan dengan air agar suatu senyawa pecah terurai. Fermentasi adalah suatu proses perubahan–peubahan kimia dalam suatu substrat organik yang dapat berlangsung karena aksi katalisator biokimia, yaitu enzim yang dihasilkan oleh mikrobia–mikrobia tertentu. Distilasi adalah suatu proses penguapan dan pengembunan kembali, yang dimaksudkan untuk memisahkan campuran dua atau lebih zat cair ke dalam fraksi–farksinya berdasarkan perbedaan titik didih. Proses pembuatan bioetanol ini melalui tahap–tahap yaitu pembuatan tepung kulit singkong, menganalisa kadar pati, kadar air, kadar serat atau selulosa tepung kulit singkong, proses hidrolisis tepung kulit singkong kemudian menganalisa kadar glukosa, proses fermentasi dan proses distilasi. Pembuatan bioetanol dari tepung kulit singkong diawali dengan proses hidrolisis asam. Proses hidrolisis ini bertujuan untuk mengubah polisakarida (pati) menjadi monosakarida (glukosa). Asam yang digunakan adalah asam klorida (HCL) 0, 1 N, berat tepung 75 gr dalam 750 ml larutan asam dengan suhu 1030C selama 1 jam. Dari hasil percobaan hidrolisis tepung kulit singkong diperoleh larutan glukosa dengan kadar 15, 05%. Pada proses fermentasi, glukosa akan diuraikan menjadi etanol oleh ragi Saccharomyces cerevisiae sebanyak 8 gram dan 5 gram urea selama 4 hari. Proses distilasi untuk memisahkan etanol dilakukan selama 1 jam atau sampai tidak terjadi tetesan lagi, pada suhu 78–800C. Dari hasil analisa diperoleh kadar etanol hasil distilasi sebesar 9, 27%. Dari 60 gr tepung kulit singkong diperoleh etanol kadar 9, 27% sejumlah 12 ml atau rendemennya sebesar 22, 15% dari berat tepung kulit singkong.
ABSTRACT Cassava skin is cassava’s waste which contains high carbohydrate so that it can be one of the alternative raw materials of bioethanol making. The rate of the outer cassava skin waste is 0.5–2% out of the total weight of a fresh cassava skin the inner one is 8–15%. Bioethanol is alcohol which is obtained from a biomass fermentation process that is aided by a micro-organism. Hydrolysis is a process between a reactor and water to make a compound scattered. Fermentation is the process of the chemical changes of an organic substrate which are able to take place because of biochemistry catalyst action, from an enzyme that is produced by certain microbes. Distillation is a process which involves an evaporation process that is continued by a condensation process, the distillation is intended to separate the mixture of two or more liquids to their own fractions based on boiling point difference. The process of bioethanol making includes some stages. Such as the making of cassava skin flour, the analysis of the amount of starch, water and fiber or cellulose of cassava skin flour, the hydrolysis process of cassava skin flour, the analysis of glucose rate, fermentation process, and distillation process. The making of bioethanol out of cassava skin is initiated by an acid hydrolysis process. Hydrolysis process is aimed to change polysaccharide (starch) into monosaccharide (glucose). The acid hydrolysis process uses chloride acid (HCl) 0.1 N and 75 gram flour in 750 ml acid solution at …
Lihat di digilib.uns.ac.id
[PDF] uns.ac.idDirujuk 14 kaliArtikel terkait2 versi
download.garuda.kemdikbud.go.id
Pemanfaatan Tepung Kulit Singkong dalam Pembuatan Mi Sagu Instan
Ucok Wandi Siagian, VONNY SETIARIES Johan, S Pato
Sagu 12 (2), 32-39, 2013
The objective of this research was to find best formulation for making instant noodle from cassava peel flour and sago starch. This study was conducted using Complete Random Design with three repetitions and six treatments namely, SK0 (100% sago starch), SK1 (95% sago starch and 5% cassava peel flour), SK2 (90% sago starch and 10% cassava peel flour), SK3 (85% sago starch and 15% cassava peel flour), SK4 (80% sago starch and 20% cassava peel flour), and SK5 (75% sago starch and 25% cassava peel flour). Data analyzed using ANOVA (Analysis of Variance) and further analyzed with DNMRT. The results showed that addition of cassava feel flour significantly affected the moisture content before and after frying, protein content, acid value and intactness, but did not significantly influence rehydration time. The best formulation was SK5 (75% sago starch and 25% cassava peel flour) with moisture content before and after frying 9.12% and 7.12% respectively, protein content 6.14%, acid number 0.03%, intactness 94.93% and rehydration time 4.23 minutes.
download.garuda.kemdikbud.go.id
Pemanfaatan Tepung Kulit Singkong dalam Pembuatan Mi Sagu Instan
Ucok Wandi Siagian, VONNY SETIARIES Johan, S Pato
Sagu 12 (2), 32-39, 2013
The objective of this research was to find best formulation for making instant noodle from cassava peel flour and sago starch. This study was conducted using Complete Random Design with three repetitions and six treatments namely, SK0 (100% sago starch), SK1 (95% sago starch and 5% cassava peel flour), SK2 (90% sago starch and 10% cassava peel flour), SK3 (85% sago starch and 15% cassava peel flour), SK4 (80% sago starch and 20% cassava peel flour), and SK5 (75% sago starch and 25% cassava peel flour). Data analyzed using ANOVA (Analysis of Variance) and further analyzed with DNMRT. The results showed that addition of cassava feel flour significantly affected the moisture content before and after frying, protein content, acid value and intactness, but did not significantly influence rehydration time. The best formulation was SK5 (75% sago starch and 25% cassava peel flour) with moisture content before and after frying 9.12% and 7.12% respectively, protein content 6.14%, acid number 0.03%, intactness 94.93% and rehydration time 4.23 minutes.
Lihat di download.garuda.kemdikbud.go.id
[PDF] kemdikbud.go.idDirujuk 3 kaliArtikel terkait4 versi
eprints.ums.ac.id
Pemanfaatan tepung kulit singkong (manihot utilissima) untuk pembuatan plastik ramah lingkungan (biodegradable) dengan penambahan Gliserol dari minyak jelantah
Ita Indriana Sari
Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2015
Plastik ramah lingkungan (biodegradable) merupakan plastik yang dapat terurai oleh aktivitas mikroorganisme pengurai. Tepung dari kulit singkong (Manihot utilissima) dapat dimanfaatkan untuk membuat plastik ramah lingkungan (biodegradable) karena mengandung polisakarida dan selulosa. Pada pembuatan plastik ramah (biodegradable) lingkungan perlu ditambahkan gliserol agar plastik yang dihasilkan lebih elastis. Gliserol dapat diperoleh dari minyak jelantah melalui proses transesterifikasi. Tujuan penelitian ini mengetahui sifat mekanik (ketahanan tarik dan perpanjangan putus) sifat organoleptik (tekstur) plastik ramah lingkungan (biodegradable) dengan penambahan gliserol dari minyak jelantah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor yaitu konsentrasi tepung kulit singkong yaitu 2g, 3g, 4g dan penambahan gliserol dari minyak jelantah yaitu 8ml, 9ml, dan 10ml. Data hasil pengamatan dianalisa dengan menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa ketahanan tarik plastik tertinggi pada perlakuan B2P2 senilai 0,97 Kg/cm2, perpanjangan putus tertinggi pada perlakuan B1P2 senilai 38,67%. Hasil uji organoleptik tekstur paling digemari pada perlakuan B1P2.